MAKALAH KOMUNIKASI TERAPEUTIK “GANGGUAN PENDENGARAN”

Diposting pada tanggal - Kategori TUGAS

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME karena atas izin, kuasa dan perlindunganNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA GANGGUAN PENDENGARAN ”.

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas bidang studi Komunikasi Keperawatan yang diberikan kepada kami Agar kami dapat mengetahui serta memahami cara menyusun makalah dengan benar dan agar  dapat mengembangkan ilmu yang telah kami peroleh.

Kami sebagai penulis menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu kami mohon saran dan kritik yang  membangun untuk perbaikan makalah ini .

Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Dosen Komunikasi Keperawatan. Selaku guru yang memberikan tugas ini juga yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk membuat makalah ini dan semua bentuk bimbingan serta pengajarannya yang kami terima dalam menyelesaikan penulisan makalah ini.

 

bojonegoro, 12 februari 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR.................................................................................................................1

DAFTAR ISI.............................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................3

A.      LATAR BELAKANG.............................................................................................................3

B.      RUMUSAN MASALAH.........................................................................................................3

C.      TUJUAN....................................................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN....................................................................................................................5

A.      DEFINISI KOMUNIKASI......................................................................................................5

B.       FASE-FASE DALAM KOMUNIKASI TERAPEUTIK.............................................................5 C.       FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT KOMUNIKASI.............................................................6 D.       GANGGUAN PENDENGARAN................................................................................................7      1. DEFINISI...............................................................................................................................7

BAB III PENUTUP.................................................................................................................................9 A.      KESIMPULAN..............................................................................................................................9 B.       SARAN.........................................................................................................................................9 DIALOG................................................................................................................................................10 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................................13

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    LATAR BELAKANG

Dewasa ini profesi perawat semakin marak.banyak yang membutuhkan tenaga perawat. Baik di Rumah sakit, balai pengobatan maupun di puskesmas. Untuk menjadi perawat yang profesional dibutuhkan keterampilan dari segi kemampuan komunikasi ataupun skill dalam merawat pasien. Agar tujuan bisa tercapai, perlu adanya komunikasi yang lancar antara pasien dengan perawat. Komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut komunikasi secara terapeutik.

Tujuan dari komunikasi ini adalah membantu pasien untuk mengurangi beban perasaan dan pikiran serta mengurangi keraguan pada diri pasien. Agar pasien lebih terbuka sehingga proses penyembuhan dapat berjalan secara efektif. Komunikasi juga dapat dilakukan oleh penderita buta dan tuli, dengan mengtahui tehnik komunikasi dapat mengtahui maksut dan tujuan seseorang yang mengalami gangguan pendengaran dan penglihtan.

B.    RUMUSAN MASALAH

  1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi terapeutik ?
  2.  Apa yang dimaksud dengan gangguan pendengaran ?
  3. Apa Gejala – gejala pada gangguan pendengaran?
  4. Apa penyebab dari gangguan pendengaran?
  5. Bagaimana upaya pencegahan terhadap gangguan pendengaran?
  6. Apa hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum berkomunikasi dengan klien  gangguan pendengaran?
  7. Apa tehnik-tehnik komunikasi yang dapat digunakan untuk berkomunikasi  pada klien dengan gangguan pendengaran ?

C.    TUJUAN

Penulisan makalah ini bertujuan :

  1. Mengetahui Apa yang dimaksud dengan gangguan pendengaran
  2. Mengetahu gejala-gejala gangguan pendengaran
  3. Mengetahu penyebab  gangguan pendengaran
  4.  Mengetahui upaya pencegahan terhadap gangguan pendengaran
  5. Mengetahui apa hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum berkomunikasi  dengan klien gangguan pendengaran
  6. Mengetahui apa tehnik-tehnik komunikasi yang dapat digunakan untuk berkomunikasi pada klien dengan gangguan pendengaran

                                                                                                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

                                                                                  

A.    DEFINISI KOMUNIKASI

 Komunikasi Terapeutik adalah Komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan & kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.

Tujuan :

1.Membantu klien untuk memperjelas & mengurangi beban perasaan & pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yg ada bila klien percaya padaa hal yg diperlukan.

2.Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif & mempertahankan kekuatan egonya.

3.Mempengaruhi orag lain, lingkungan fisik & dirinya sendiri.

B. Fase – fase dalam komunikasi terapeutik         

  1. Fase komunikasi terapeutik dalam hubungan perawat pasien terdiri dari 4 fase yaitu :
  1. Fase preinteraksi
  • Gali perasaan, fantasi dan rasa takut dalam diri sendiri
  • Analisis kekuatan dan keterbatasan professional diri sendiri
  • Kumpulkan data tentang pasien jika memungkinkan
  • Rencanakan untuk pertemuan pertama dengan pasien
  1. Fase perkenalan / orientasi
  • Tetapkan alasan pasien untuk mencari bantuan
  •  Bina rasa percaya
  •  Gali pikiran, perasaan, dan tindakan – tindakan pasien
  •  Identifikasi masalah pasien
  •  Tetapkan tujuan dengan pasien
  •  Rumuskan bersama kontrak yang bersifat saling menguntungkan
  1. Fase kerja
  • Gali stressor yang relevan
  •  Tingkatkan pengembangan penghayatan dan penggunaan mekanisme koping pasien yang konstruktif
  •  Fase terminasi
  •  Bina realitas tentgang perpisahan
  •  Tinjau kemajuan terapi dan pencapaian tujuan – tujuan
  •  Gali secara timbal balik perasaan penolakan

 

C. Faktor – faktor penghambat komunikasi

  1. Kecakapan yang kurang dalam berkomunikasi. Kurang cakap berbicara ( terutama di depan umum ), berbicara tersendat – sendat, menyebabkan pendengar menjadi jengkel dan tidak sabar.
  2. Sikap yang kurang tepat. Seorang guru yang sedang mengajar di depan kelas, sambil duduk diatas meja akan memberi kesan kurang baik bagi siswanya.
  3. Kurang pengetahuan. Seorang yang kurang pengetahuannya jarang membaca atau mendengarkan radio atau televisi. Akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pembicaraan orang lain.
  4. Kurang memahami system social.
  5. Prasangka yang tidak beralasan.
  6. Jarak fisik, komunikasi menjadi kurang lancer bila jarak antara komunikator dengan reseptor berjauhan.
  7. Tidak ada persamaan persepsi.
  8. Indera yang rusak.
  9. Berbicara yang berlebihan. Berbicara berlebihan sering kali akanmengakibatkan penyimpangan dari pokok pembicaraan.

                                                                  

 

 

 

 

 

D. GANGGUAN PENDENGARAN

1.     DEFINISI    

       Gangguan pendengaran adalah salah satu gangguan kesehatan yang umumnya disebabkan oleh faktor usia atau karena sering terpapar suara yang nyaring/keras. Pendengaran bisa dikatakan terganggu jika sinyal suara gagal mencapai otak.

Proses pendengaran terjadi ketika gendang telinga bergetar akibat gelombang suara yang masuk ke liang telinga. Getaran kemudian dilanjutkan ke telinga tengah melalui tiga tulang pendengaran yang dikenal dengan nama osikel (terdiri dari tulang malleus, incus, stapes). Osikel akan memperkuat getaran untuk dilanjutkan menuju  rambut-rambut halus di dalam koklea, di mana koklea akhirnya mengirim sinyal melalui saraf pendengaran ke otak.

 

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum berkomunikasi dengan klien gangguan pendengaran :

1.      Periksa adanya bantuan pendengaran dan kaca mata

2.      Kurangi kebisingan

3.      Dapatkan perhatian klien sebelum memulai pembicaraan

4.      Berhadapan dengan klien dimana ia dapat melihat mulut anda

5.      Jangan mengunyah permen karet

6.      Bicara pada volume suara normal - jangan teriak

7.      Susun ulang kalimat anda jika klien salah mengerti

8.      Sediakan penerjemah bahasa isyarat jika diindiksikan

 

Berikut adalah tehnik-tehnik komunikasi yang dapat digunakan klien dengan pendengaran :

  1. Orientasikan kehadiran diri anda dengan cara menyentuh klien atau memposisikan diri di depan klien.
  2. Usahakan menggunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan

        untuk memudahkan klien membaca gerak bibir anda

  1. Usahakan berbicara dengan posisi tepat di depan klien dan pertahankan sikap tubuh dan mimik wajah yang lazim.
  2.  Tunggu sampai Anda secara langsung di depan orang, Anda memiliki perhatian individu tersebut dan Anda cukup dekat dengan orang sebelum Anda mulai berbicara.
  3. Pastikan bahwa individu melihat Anda pendekatan, jika kehadiran Anda mungkin terkejut orang tersebut.
  4.  Wajah-keras mendengar orang-langsung dan berada di level yang sama dengan dia sebisa mungkin.
  5. Jangan melakukan pembicaraan ketika anda sedang mengunyah sesuatu misalnya makanan atau permen karet.
  6. Jika Anda makan, mengunyah atau merokok sambil berbicara, pidato Anda akan lebih sulit untuk mengerti.
  7.  Gunakan bahasa pantomim bila memungkinkan dengan gerakan sederhana dan perlahan.
  8.  Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dan diperlukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN   

Gangguan pendengaran adalah salah satu gangguan kesehatan yang umumnya disebabkan oleh faktor usia atau karena sering terpapar suara yang nyaring/keras. Pendengaran bisa dikatakan terganggu jika sinyalsuara gagal mencapai otak.

Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.

B.    SARAN                                                    

Diharapkan makalah ini dapat dijadikan suatu refrensi atau informasi bagi mahasiswa keperawatan khususnya dan kalangan umum untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Mohon maaf bila banyak kekurangan dalam makalah ini dan mohon kritik dan saran yang membangun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIALOG

Narasi

Di desa Padang Kecamatan Trucuk terdapat seorang pasien yang bernama Deby umur 21 tahun dimana iya sekarang sedang duduk dibangku kuliah, menderita penyakit gangguan pendengaran. Dia bertempat tinggal dengan ayah dan ibunya. Deby sedang melakukan terapi dengan penyakit gangguan pendengaran. Deby terkena penyakit gangguan pendengaran sejah umur 9 tahun dia terjatuh dan telinganya sampai berdarah dan mengakibatkan pendengarannya sedikit terganggu, saat dia sekolah dia menggunakan audiotone untuk membantu supaya pendengarannya jelas.

Fase Orientasi

Perawat           : Assalamualaikum

Orang Tua       :Wa’alaikumsalam, silahkan masuk

Perawat           :Baik pak

Kemudian mereka duduk dan memperkenalkan dirinya

Perawat 1        :Perkenalkan nama saya Dyah Ayu Wurjayanti

Perawat 2        :Perkenalkan nama saya Nurmelia

Perawat 3        :Perkenalkan nama saya Dyra Laurenza Mahardika Sari

Perawat 1        :Kami dari perawat AKES Rajekwesi Bojonegoro yang kemari dipanggil oleh Bapak atau Ibu untuk menerapi anak Bapak atau Ibu yang mengalai gangguan pendengaran

Ibu                   :Iya silahkan suster

Perawat 1        :Bagaimana keadaan anak Ibu hari ini?

Ibu                   :Keadaannya sama saja suster, tidak ada perubahan sama sekali dan sekarang sih sulit mendengar.

Perawat 1        :Sejak kapan putra Ibu mengalami gangguan pendengaran?

Bapak              :Sudah sekitar umur 9 tahun an

Perawat 1        :Selamat sore mas

Pasien              :Ha?’’Sambari tersenyum”

Perawat 1        :Mas nama saya Dyah

Pasien              :Ha?”sambari tersenyum”

Perawat 1        :Saya suster Dyah “berbicara dengan gerakan bibir pelan sambil menunjukkan papan namanya”

Pasien              :Suster Dyah “sambil tersenyum”

Perawat 1        :Iya saya suster Dyah “dengan gerakan bibir pelan”

Pasien              :Maaf suster saya sulit mendengar “sambil tersenyum”

Perawat 1        :Iya tidak apa-apa “gerakan bibir pelan”

Fase Kerja

Setelah mereka melakukan Fase Orientasi kemudian perawat melakukan Fase Kerja

Perawat 2        :Mas boleh saya terapi sekarang

Pasien              :Gimana “sambil tersenyum”

Perawat 2        :Bolehkah saya terapi sekarang “dengan gerakan bibir pelan”

Pasien              :Iya silahkan “sambil tersenyum”

Kemudian Perawat 2 Nurmelia melakukan terapinya kepada si pasien kurang lebih 30 menit terapinya selesai.

Perawat           :Sudah buk sering-sering dibawa ke THT saja ya

Orang Tua       :Iya sus

Fase Terminasi

Setelah perawatan melakukan fase kerja kemudian perawat berpamitan kepada orang tua dan Deby.

Perawat 3        :Terimakasih Bapak atau Ibu sudah memberikan waktu untuk kami melakukan terapi kepada anak Bapak dan Ibu, kami disini ingin berpamitan dan semoga cepat sembuh

Bapak              :Iya terimakasih sus

Perawat           :Assalamualaikum

Orang tua        :wa’alaikumsalam

AkhirnyaPerawat pulang dan meninggalkan rumah si pasien

PERAN DIALOG

Narasi              :Muslimah

Perawat 1        :Dyah Ayu Wurjayanti

Perawat 2        :Nurmelia Lestari

Perawat 3        :Dyra Laurenza

Ibu                   :Novi Ratna Sari

Bapak              :Tri Wahyudi M

Pasien              :Deby

SELESAI

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Yubiliana, gilang. 2017. Komunikasi Terapeutik Penatalaksanaan Komunikasi Efektif & Terapeutik pasien. Jakarta: UNPAD Press.

Ali, Iskandar. 2006. Mengatasi Gangguan pada Telinga dengan Tanaman Obat. Surabaya: AgroMedia.

Pieter, Heri, Zan.dkk. 2017. Dasar- Dasar Komunikasi bagi Perawat. Jakarta: Prenada Media.