MAKALAH KOMUNIKASI KEPERAWATAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERHADAP ANAK

Diposting pada tanggal - Kategori TUGAS

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai pada waktunya.Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

 

 

                                                                        Bojonegoro, 14 Februari 2019

 

 

   Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul................................................................................................

Kata Pengantar............................................................................................... ii

Daftar Isi........................................................................................................ iii

Bab I (Pendahuluan)

  1. Latar Belakang.................................................................................. 1
  2. Rumusan Masalah............................................................................. 2
  3. Tujuan................................................................................................ 2

Bab II (Pembahasan)

  1. Konsep Komunikasi Terapeutik......................................................... 3
  2. Teknik Komunikasi Terapeutik pada Anak........................................ 6
  3. Penerapan Konsep Komunikasi Terapeutik pada Anak..................... 9

Bab III (Penutup)

  1. Kesimpulan......................................................................................... 14
  2. Saran............................................................................................... .. 15

Daftar Pustaka................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia. Pada profesi keperawatan, komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metode utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan.

Komunikasi terapeutik adalah pengalaman interaktif amatara perawat dan pasien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang dialami oleh pasien. Di samping itu juga untuk mengurangi keraguan serta membantu dilakukannya tindakan yang efektif, mempererat interaksi kedua pihak, yaitu antara perawat dan pasien secara profesional dan proporsional.Salah satu bentuk komunikasi terapeutik adalah komunikasi dengan anak. (Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi Keperawatan Komunikasi Terapeutik. Yogyakarta: Ganbika :104)

Salah satu indikator perkembangan anak dapat dietahui dari kemampuannya berkomunikasi. tingkat perkembangan anak dalam beraktifitas dengan lingkungannya sangat dipengaruhi oleh kemampuannya berkomunkasi. Dalam berkomunikasi dengan anak ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain esensi komunikasi, untuk komunikasi prabicara, peran bicara dalam berkomunikasi, komunikasi yag sesuai dengan tingkat perkembangan, kominikasi terapeutik, dan teknik komunikasi pada anak. (Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi Keperawatan Komunikasi Terapeutik. Yogyakarta: Ganbika : 121)

 

 

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana konsep komunikasi terapeutik?
  2. Bagaimana teknik komunikasi terapeutik pada anak?
  3. Bagaimana penerapan konsep komunikasi terapeutik pada anak?
  1. Tujuan
  1. Untuk mengetahui kosep komunikasi terautik.
  2. Untuk mengetahui teknik komunikasi terapeutik terhadap anak.
  3. Untuk memahami penerapan konsep komunikasi terapeutik pada anak.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Konsep Komunikasi Terapuetik Keperawatan.
  • Pengertian Komunikasi Terapuetik Keperawatan

Menurut beberapa pakar, komunikasi berasal dari kata“communication”, yang berasal dari bahasa Latin, yaitu “communication”. Kata tersebut berbentuk dari dua kata akar, yaitu “com” dalam bahasa latin “union”. “com” atau “cum” memiliki arti “dengan” atau “bersama dengan”, sementara “unio” atau “union” memiliki arti “bersatu dengan”. Maka, “komunikasi” dapat diartikan sebagai pengiriman pesan dari seseorang kepada seseorang yang lain.(MH, Pribadi Zen. 2013. Panduan Komunikasi Efektif untuk Bekal Keperawatan Profesional. Yogyakarta: D-Medika : 15)

Apabila dalam berkomunikasi dengan klien, perawat mendapatkan gambaran dengan jelas tentang klien yang sedang dirawat, mengenai tanda dan gejala yangditampilkan serta keluhan yang dirasakan. Gambaran tersebut dapat diajadikan acuan dalam menentukan masalah keperawatan dan tindakan keperawatan yang akan dilakukan, dengan harapan yang akan dilakukan sesuai keluhan dan masalah keperawatan yang sedang dialami klien atau bisa dikatakan bahwa tindakan keperawatan tepat sasaran sehingga membantu mempercepat proses kesembuhan.

Menurut As Homby (1974) yang dikutipoleh Nurjanah, I (2001) mengtakan bahwa teraupetik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan. Hal ini menggambarkan bahwa dalam menjalani proses komunikasi teraupetik, seseorang perawat melakukan kegiatan dari mulai pengkajian, menentukan masalah keperawatan, menentukan rencana tindakan, melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan yang telah direncanakan samapai pada evaluasi yang semuanya itu bisa dicapai dengan maksimal apabila terjadi proses komunikasi yang efektif yang intensif hubungan take and give anatara perawat dan klien menggambarkan hubungan memberi dan menerima.(Nasir, Abdul., Muhith, Abdul., Sajidin, Muhammad., dan Mubarok, Wahhid Iqbal. 2009. Komuniksi dalam Keperawatan Teori dan  Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika : 142)

Komunikasi terapeutik bisa berjalan secara efektif apabila antara pasien dengan perawat terjalin hubungan saling mengahargai satu sama lain. Perawat harus memiliki kemampuan  dalam melakukan komunikasi terapeutik, Sehingga pasien atau keluarganya mengetahui rencana kegiatan yang bisa atau akan dilakukan. Maka, penting bagi perawat guna menciptakan proses komunikasi yang efektif. Misalnya adalah perawat harus memperkenalkan diri sebelum melangkah pada upaya menjelaskan tindakan yang hendak dilakukan.

  • Tujuan Komunikasi Terapeutik

Pelaksanaan komunikasi terapeutik bertujuan membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban pikiran dan perasaan untuk dasar tindakan dalam pengguna mengubah situasi yang ada apabila pasien percaya pada hal-halyang diperlukan. Disamping itu juga untuk mengurangi keraguaan serta membantu dilakukannya tindakan yang efektif, memepererat interaksi kedua pihak, yakni antara pasien dan perawat profesional. (Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi Keperawatan Komunikasi Terapeutik. Yogyakarta: Ganbika : 105)

Komunikasi terapeutik sengaja dirancang agar hubungan perawat dan klien menjadi efektif dalam mencapai kesembuhan . komunikasi teraupetik juga bertujuan membentuk suatu keintiman, saling ketergantungan hubungan interpersonal dengan kapasitas memberi dan menerima.

 

 

  • Tahapan komunikasi terapeutik

Komunikasi terapeutik dalam pelaksanaannya melalui beberapa tahapan yang meliputi prainteraksi,orientasi,kerja,dan terminasi.

  1. Tahap Prainteraksi

Komunikasi terapeutik diawli dengan tahap prainteraksi. Tahap ni perawat bertugas mengumpulkan data tentang klien/pasien, mengeksplorasi perasaan fantasi dan ketakutan pada klien,menganalisis kemampuan dan keterbatasan diri,dan membuat rencana pertemuan dengan klien

  1. Tahap Orientasi

Pada tahap ini perawat menyapa dan menanyakan nama klien. Selanjutnya melakukan falidasi pada pertemuan berikutnya, menentukan alasan klien mencari pertolongan, menunjukan kepercayaan, penerimaan dan komunikasi terbuka, kemudian melakukan ikatan timbal balik, mengeksplorasi perasaan,pikiran,tindakan klien. Mengidentifikasikan masalah yang dialami oleh klien, mengidentifikasi masalah bersama klien, menjelaskan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan, dan menjelaskan kerahasiaan.

  1. Tahap Kerja

Pada tahap ini perawat meberi kesempatan pada klien untuk pertanyaan tentang keluhan utama dan keluhan yang mungkin dikaitkan dengan kelancaran pelaksanaan kegiatan, mulai kegiatan dengan cara yang baik serta melakukan kegiatan yang sesuai dengan rencana.

  1. Tahap Terminasi

Pada tahap ini perawat menyimpulkan hasil kegiatan berupa evaluasi hasil dan proses. Kemudian saling mengeksplorasi perasaan penolakan, kehilangan, sedih, marah dan perilaku lain. Selanjutnya memberikan dorongan positif merencanakan tindakan lanjut dengan klien, membuat perjanjian untuk pertemuan selanjutnya dan mengakhiri kegiatan dengan baik. (Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi Keperawatan Komunikasi Terapeutik. Yogyakarta: Ganbika : 107-108)

  1. Komunikasi Terapeutik pada Anak

Untuk melakukan komunikasi terapeutik pada ada dapat ditempuh dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Nada Suara

Untuk dapat berkomunikasi dengan efektif dapat diperlukan tempo bicara yang rendah dengan memperlambat pembicraan. Apabila tidak mendapat jawaban harus di ulang dengan kata-kata yang jelas.

  1. Mengalihkan Aktivitas

Anak tertarik dengan aktivitas yang disukai. Oleh karena itu perlu dibuatkan jadwal agar aktivitas yang disukai dapat di atur waktunya.

  1. Jarak Interaksi

Perawat yang mengamati tindakan non verbal dan sikap tubuh anak harus mempertahankan jarak yang aman.

  1. Marah

Perawat perlu mempelajari isyarat kontrol perilaku pada anak untuk mencegah kemarahan anak. Perawat haru menghindari bersuara keras dan bersikap otoriter. Serta mengurangi kontak pandang jika respon anak meningkat.

  1. Kesadaran Diri

Perawat secara non verbal selalu memberi motivasi dan persetjuan apabila diperlukan. Perawat harus mengindari berhadap-hadapan secara langsung dan duduk terlalu dekat.

  1. Sentuhan

Perawat hendaknya tidak menyentuh anak kecuali di kehendaki berjabat tagan dengan anak merupakan cara untuk menghilangkan stres dan cemas pada anak.

Berkomunikasi dengan anak berbeda dengan berkomunikasi pada orang dewasa. Untuk melakukan pendekatan pada mereka di perlukan teknik tertentu. Ada dua teknik yang dapat diterapkap untuk berkomunikasi dengan anak. Yakni teknik komunikasi verbal dan non verbal. Berikut penjelasannya:

  1. Teknik Verbal

Penerapan teknik ini dapat di tempuh dengan beberapa cara:

  1. Teknik Orang Ketiga

Perawat tidak bertanya langsung kepada klien anak tentang apa yang dirasakannya, melainkan dengan cara mengatakan pengalaman orang lain. Misalnya, “kadang-kadang apabila seseorang sakit sering marah-marah karena tidak dapat melakukan seperti yang dilakukan oleh kakak, adik, atau temannya,”kemudian perawat diam sejenak untuk menunngu respon dan bertanya lagi “apakah kamu pernah meraskan seperti itu?” Teknik ini memberi kesempatan kepada klien anak untuk menentukan satu diantara alternatif: setuju, tidak setuju, atau tetap diam karena tidak mampu menyatakannya pada saat itu.

  1. Bercerita

Dongeng lebih mampu mengembangkan pendekatan terapeutik, karena selain membantu membuka pikiran anak dongeng juga dapat dijadikan untuk mengubah persepsi. Ini dimaksudkan untuk menghidarkan anak dari perasaan takut.

  1. Neuro linguistic programming (NLP)

Teknik pendekatan ini digunakan untuk memahami proses komunikasi dengan memperhatikan cara, gaya, dan perilaku dalam penerimaan dan pemahaman oleh individu. Pada umumnya teknik ini menggunakan dengan satu sensorik pengelihatan, pendengaran, atau kinesthetic. Dengan menggunakan sensorik yang sama perawat dapat meningkatkan hubungan dan mengkomunikasikan informasi secara efektif.

  1. Bibliotherapy

Teknik ini diterapkan menggunakan buku dalam proses therapic dan supportivedengan tujuan membantu anak mengungkapkan perasaan dan perhatiannya melalui aktivits membaca. Bertujuan memberi kesempatan pada anak untuk menjelajahi suatu kejadian yang kondisinya hampir sama sehingga memungkinkannya untuk tetap terkendali.

  1. Fantasi

Teknik ini berupakan bentuk khusus dari Bibliotherapy yang diterapkan dengan penyampaian cerita/dongeng fantasi. Tokoh dan kejadian dalam dongeng fantasi mengilustrasikan suatu konflik dalam suatu peristiwa yang memerlukan perhatian,pentingnya kejujuran, kebutuhan kasih sayang dan sebagainya.

  1. Pertanyaan “Bagaimana jika.”

Mendorong anak untuk menentukan solusi suatu permasalahan. Kemudian anak akan menyatakan perasaannya yang telah dikketahui dan ingin di ketahuinya.

  1. Teknik Non Verbal

Teknik komunikasi non verbal yang dapat diterapkan pada klien anak meliputi:

  1. Menulis

Menulis merupakan alternatif pendekatan untuk mengawali suatu percakapan perawat melalui tulisan dan juga memiinta pasien untuk memahami beberapa bagian.

  1. Menggambar

Menggambar merupakan suatu bentuk teknik komunikasi yang dilakukan dengan mengamati gambar. Dasar asumsi dalam menafsirkan gambar adalah anak mengungkapkan dirinya melalui gambar yang di buatnya.

  1. Gerakan Gambar Keluarga

Menggambarkan suatu kelompok berpengaruh pada perasaan dan respon emosi anak. Anak akan menggambarkan pikiran tengtsng diriya dan anggota keluarga lain.

  1. Sosiogram

Dalam menggambar anak tidak perlu dibatasi. Bagi anak berusia 5 tahun sosiogram(gambar ruang kehidupan/lingkaran keluarga) gambar lingkaran melambangkan orang yang mirip dalam kehidupan anak, dan gambar bundran di dekat lingkaran menunjukkan keakraban/kedekatan.

  1. Menggambar Bersam dalam Keluarga

Teknik ini merupakan satu alat untuk menungkapkan dinamika dan hubungan dalam keluarga.

  1. Bermain

Bermain merupakan cara efektif untuk berkomunikasi dengan anak. Permainan dalam komunikasi terapeutik sering diterapkan untuk mengurangi trauma atau mempersiapkan anak sebelum dilakukan prosedur kepeawatan.(Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi Keperawatan Komunikasi Terapeutik. Yogyakarta: Ganbika : 127-132)

  1. Penerapan Konsep Komunikasi Terapeutik pada Anak.

Di keluarga ibu Maya dan bapak Farid memiliki dua anak yang bernama Sika dan Aca. Suatu hari bapak Farid merasa pekarangan mereka kotor dan mengajak anak-anaknya untuk membersihkan pekarangan tersebut.

Bapak Farid: “Buk, kelihatannya halaman kita sudah kotor.”

Ibu Maya: “ Ayo Pak dibersihkan, anak-anak diajak sekalian.”

Bapak Farid                : “Ayo nak kita bersihkan”.

Anak-anak                   : “Ayo Pak.”(anak-anak sambil berjalan menuju halaman)

TAHAP INTERAKSI

Petugas kesehatan I    : “Halo adik-adik, sedang apa kalian (berjalan menuju anak-anak).”

Anak-Anak                 : “ Kita lagi bersih-bersih kak.”

Petugas kesehatan II :  “oh ya nama kalian siapa.”

Anak 1                        : “ Nama ku aca.”

Anak 2                                    : “Namaku sika.”

Petugas Kesehatan II :  “Kalian udah kelas berapa ?.”

Anak 1                                    : “kls 3 kak.”

Anak 2                                    : “kls TK B.”

Petugas Kesehatan I   : “ Kalian lagi bersih-bersih sama siapa ini ?.”

Anak-Anak                 : “sama papa.”

Petugas Kesehatan I   : “He adik-adik lihat tangan kalian panjang-panjang.”

Anak-anak lalu melihat kuku mereka yang panjang-panjang

Petugas Kesehatan II : “Nanti kuku kalian di potong mau ?.”

Anak-Anak                 : “Mau kak.”

Beberapa jam kemudian ibuk maya memanggil anak-anaknya untuk makan

Ibuk                             : “Anak-anak ayo kita makan.”

Dengan senang hati anak-anak merasa senang ketika dipanggil oleh ibuknya

Anak-Anak                 : “yeyeyeeee.”

Bapak                          :“Ayo anak-anak itu ibu udah manggil, ayo kita makan.”

Petugas kesehatan I    : “ehhh sebelum kalian makan kita potong dulu ya kuku kalian.”

Lalu petugas kesehatan melakukan pemotongan kuku anak-anak tersebut.

Petugas kesehatan II : “Kalian harus rajin potong kukunya agar tangan kalian tidak banyak kumannya.” (sambil memotong kuku)

Tiba-tiba teman dari petugas kesehatan datang satu lagi.

Petugas kesehatan III :“hallo adek adek ada yang mau ini.”

Anak – anak                :“mau kak.”

Perawat kesehatan III :“kalian lagi ngapain, kenalin kakak temnnya dari kakak ini.”

Anak anak                   : “ iya kak.”

Perawat kesehtan III   : “kalian lagi ngapain.”

Anak –anak                 : “lagi bersihin kuku kak.”

Perawat kesehatan III :“oh iya setelah bersihin kuku kalian mau nggak mencuci tangan nanti kakak ajarin.”

Anak-anak                   :“mau kak.”

Kemudian petugas kesehatan tersebut mengajak anak-anak mencuci tangan.

TAHAP KERJA

Petugas kesehatan III :“lihat cara kakak mencuci tangan ya, nanti gantian adek yang mencuci tangan ya.”

Anak-ana                     :“iyaa kak.”

Petugaas kesehtan III : “pertama- tama basahi tangan lalu ambil sabun, gosok telapak tangan bersamaan , gosok punggung tangan dan sela-sela jari kiri dan kanan tangan, jari –jari sisi dalam dari 2 tangan mengunci. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya. Gosokkan dengan memutar ujung-ujung jari tangan ditelapak tangan kanan ditelapak tangan kiri dan sebaliknya.

Anak-anak                   : “iya kakak.”

Petugas kesehatan III : “sekarang giliran kalian.”

 Lalu anak-anak mulai mengikuti langkah-langkah mencuci tangan yang telah dicontohkan oleh petugas kesehatan.

TAHAP TERMINASI

Lalu anak-anak menuju ke ibunya untuk makan siang. Dengan petugas kesehatan menjelaskan pentingnya cuci tangan dan memotong kuku.

Petugas kesehatan I : “Adek –adek kalian harus sering-sering memotong kuku dan mencuci tangan ya supaya kuman-kuman yang ada ditangan kalian biar hilang, soalnya didalam kuku tangan kalian itu ada banyak kumannya kalo kalian makan kumannya bisa masuk ke perut dan perut kalian bisa sakit.

Anak-anak       : “Siap kakak.”

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Komunikasi terapeutik bisa berjalan secara efektif apabila antara pasien dengan perawat terjalin hubungan saling mengahargai satu sama lain. Perawat harus memiliki kemampuan  dalam melakukan komunikasi terapeutik, Sehingga pasien atau keluarganya mengetahui rencana kegiatan yang bisa atau akan dilakukan. Maka, penting bagi perawat guna menciptakan proses komunikasi yang efektif. Misalnya adalah perawat harus memperkenalkan diri sebelum melangkah pada upaya menjelaskan tindakan yang hendak dilakukan. Pelaksanaan komunikasi terapeutik bertujuan membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban pikiran dan perasaan untuk dasar tindakan dalam pengguna mengubah situasi yang ada apabila pasien percaya pada hal-hal  yang diperlukan. Disamping itu juga untuk mengurangi keraguaan serta membantu dilakukannya tindakan yang efektif, memepererat interaksi kedua pihak, yakni antara pasien dan perawat profesional.

Tahapan komunikasi terapeutik

  1. Pra interaksi
  2. Interaksi
  3. Kerja
  4. Terminasi

Berkomunikasi dengan anak berbeda dengan berkomunikasi pada orang dewasa. Untuk melakukan pendekatan pada mereka di perlukan teknik tertentu. Ada dua teknik yang dapat diterapkap untuk berkomunikasi dengan anak. Yakni teknik komunikasi verbal dan non verbal.

Kegiatan mencuci tangan adalah suatu kegiatanyang dilakukan dengan memiliki efek yang sangat besar bagi kesehatan. Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu tindakan yang bertujuan menghilangkan kuman dan bakteri yang menempel pada tangan, jari serta kuku-kuku tangan.

  1. SARAN

Untuk anak-anak diusahakan mencuci tangan karena dengan mencuci tangan kita akan mendapatkan sejuta manfaat. Dan kita harus biasakan dari dini dan yang belum dibiasakan dari sekarang. Mulailah diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan.

Demikian makalah ini kami susun. Semoga apasaja yang kami uraikan di atas dapat menambah wawasan para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami perlukan untuk terciptanya makalah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Sheldon, Lisa Kennedy. 2009. Komunikasi untuk KeperawatanBerbicara Dengan Pasien. Jakarta: Erlangga.

Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi Keperawatan Komunikasi Terapeutik. Yogyakarta: Ganbika.

Nasir, Abdul., Muhith, Abdul., Sajidin, Muhammad., dan Mubarok, Wahhid Iqbal. 2009. Komuniksi dalam Keperawatan Teori dan  Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.

MH, Pribadi Zen. 2013. Panduan Komunikasi Efektif untuk Bekal Keperawatan Profesional. Yogyakarta: D-Medika.