KONSEP DASAR KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA ORANG DEWASA

Diposting pada tanggal - Kategori TUGAS

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “KONSEP DASAR KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA ORANG DEWASA”. Makalah ini di susun guna memenuhi tugas SP komunikasi.

     Melalui kesempatan ini kami sebagai penyusun makalah menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini, terutama kepada yang terhormat :

  1. Bapak dan ibu dosen Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro yang telah memberi arahan untuk pengerjaan makalah ini.
  2. Teman – teman yang membantu dalam pengerjaan makalah ini.

     Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan yang setimpal atas segala bantuan yang telah di berikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

BAB I                                                                        

PENDAHULUAN                                        .................................................................4

Latar Belakang                                             .................................................................4

Tujuan                                                           .................................................................4

BAB II                                               

TINJAUAN TEORI                                     .................................................................

A.    Pengertian Komunikasi Terapeutik    .................................................................6

B.     Tujuan Komunikasi Terapeutik         .................................................................7

C.     Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik     ..........................................................7    

D.Teknik komunikasi terapeutik pada orang dewasa ..........................................8

E. Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi .........................................................9

F. Tahapan Komunikasi                              .................................................................9

G. Prinsip Komunikasi Terapeutik .................................................................10

H. Sikap Perawat Terhadap Komunikasi Terapeutik .............................................10

BAB III

NASKAH ROLE PLAY                              .................................................................13

BAB IV

PENUTUP                                         .............................................................................

  1. SARAN                                        ................................................................17
  2. KESIMPULAN                           ................................................................17

DAFTAR PUSTAKA                                  .................................................................18

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluaga, atau komunitas, perawat sangat memerlukan keterampilan dan tanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya dalam praktik keperawatan, dimana inti dari tangung jawab tersebut adalah berarti keadaan yang dapat dipercaya dan dipercaya. Sebutan ini menunjukan bahwa perawat professional menampilkan kinerja secara hati – hati, teliti dan kegiatan perawat dilaporkan secara jujur. Klien merasa yakin bahwa perawat bertanggung jawab dan memilki kemampuan, pngetahuan dan keahlian yang relevan dengan disiplin ilmunya. ( Jurnal mahasiswa.hangtuah.ac.id)

Komunikasi merupakan suatu proses pembentukan, penyampaian, pennerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi didalam diri seorang dan atau diantara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang dilakukan atau diranang untuk terapi. Seorang perawat dapat membantu klien mengatasi masalah yang dihadapinya melalui terapi komunikasi. (Nunung Nurhasanah. 2010)

 

  1. Tujuan

1.      Tujuan Umum

Dalam komunikasi terapeutik ini Effendy (2002) berpendapat bahwa komunikasi terapeutik bertujuan untuk :

a.       Realisasii diri, maksudnya yaitu melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan pada diri klien.

b.      Kemmpuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung dengan orang orang lain. Melalui komunikasi terapeutik , klien diharapkan mau menerima dan diterima oleh orang lain.

c.        Peningkatan fungsi dan untuk meuaskan kebutuhan serta mencapai kebutuhan yang     realistis. Terkadang klien mendapatkan ideal diri atau tujuan yang terlalu tinggi tanpa mengukur kemampuannya.

d.      Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri identitas personal disini termasuk status, peran, jenis dan jenis kelamin.

e.       Membantu  pasien untuk memperjelas  da mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindkan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan

f.       Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.

g.      Mempengaruhi orag lain, lingkunan fisik dn dirinya sendiri.

 

2.      Tujuan Khusus

Komunikasi terapeutik dilakukan oleh tenaga medis kepada pasien untuk membantu permasalahan yang dihadapi pasien. Oleh karena itu tenaga medis harus menguasai kecerdasan linguisti agar pasien merasa nyaman terhadap apa yang dilakukan oleh tenaga medis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian Komunikasi Terapeutik

            Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi. Seorang penolong atau perawat dapat membantu klien mengatasi masalah yang dihadapinya melalui komunikasi, (Suryani 2005). Menurut Purwanto yang dikutip oleh (Mundakir 2006), komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien, (Siti Fatmawati 2010).

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien, Indrawati, dalam (Siti Fatmawati, (2010).

Menurut (Stuart 1998) komunikasi terapeutik adalah merupakan hubungan interpersonal antara perawat dan klien, dalam hal ini perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalamrangka memperbaiki pengalaman emosional klien. Menurut (Potter-Perry 2000),proses dimana perawat menggunakan pendekatan terencana dalam mempelajari klien.

Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan seorang perawat dengan teknik-teknik tertentu yang mempunyai efek penyembuhan. Komunikasi terapeutik merupakan salah satu cara untuk membina hubungan saling percaya terhadap pasien dan pemberian informasi yang akurat kepada pasien, sehingga diharapkan dapat berdampak pada perubahan yang lebih baik pada pasien dalam menjalanakan terapi dan membantu pasien dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan.

 

 

 

 

B.     Tujuan Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi klien kearah yang lebih positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan klien yang meliputi:

Pertama, realisasi diri, penerimaan diri, dan peningkatan penghormatan diri. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan dalam diri klien. Klien yang tadinya tidak biasa menerima apa adanya atau merasa rendah diri, setelah berkomunikasi terapeutik dengan perawat akan mampu menerima dirinya.

Kedua, kemampuan membina hubungan interpersonal dan saling bergantung dengan orang lain. Melalui komunikasi terapeutik, klien belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain. Dengan komunikasi yang terbuka, jujur dan menerima klien apa adanya, perawat akan dapat meningkatkan kemampuan klien dalam membina hubungan saling percaya .

Ketiga, peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang realistis. Terkadang klien menetapkan ideal diri atau tujuan yang terlalu tinggi tanpa mengukur kemampuannya.

Keempat, rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri. Identitas personal disini termasuk status, peran, dan jenis kelamin. Klien yang mengalami gangguan identitas personal biasanya tidak mempunyai rasa percaya diri dan mengalami harga diri rendah. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat membantu klien meningkatkan integritas dirinya dan identitas diri yang jelas. Dalam hal ini perawat berusaha menggali semua aspek kehidupan klien di masa sekarang dan masa lalu. Kemudian perawat membantu meningkatkan integritas diri klien melalui komunikasinya dengan klien, (Suryani 2005).

C.     Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik           

Menurut (Suryani 2000), ada beberapa prinsip dasar yang harus dipaham dalam membangun dan mempertahankan hubungan yang terapeutik:

Pertama, hubungan perawat dengan klien adalah hubungan terapeutik yang saling menguntungkan. Hubungan ini didasarkan pada prinsip” humanity of nurse and clients”. Kualitas hubungan perawat-klien ditentukan oleh bagaimana perawat mendefinisikan dirinya sebagai manusia. Hubungan perawat dengan klien tidak hanya sekedar hubungan seorang penolong dengan kliennya tetapi lebih dari itu, hubungan antar manusia yang bermartabat.

Kedua, perawat harus menghargai keunikan klien. Tiap individu mempunyai karakter yang berbeda-beda, karena itu perawat perlu memahami perasaan dan perilaku klien dengan melihat perbedaan latar belakang keluarga, budaya, dan keunikan tiap individu.

Ketiga, semua komuikasi yang dilakukan harus dapat menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan, dalam hal ini perawat harus mampu menjaga harga dirinya dan harga diri klien.

Keempat, komunikasi yang menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya harus dicapai terlebih dahulu sebelum menggali permasalahan dan memberikan alternative pemecahan masalah. Hubungan saling percaya antara perawat dan klien adalah kunci dari komunikasi terapeutik.

D.Teknik komunikasi terapeutik pada orang dewasa

1.      Mendengarkan dengan penuh perhatian

2.      Menunjukkan penarimaan

3.      Menanyakan pertanyaan yang berkaitan

4.      Pertanyaan terbuka

5.      Mengulang ucapan klien

6.      Mengklarifikasikan

7.      Memfokuskan

8.      Menyatakan hasil observasi

9.      Menawarkan informasi

10.  Diam atau memelihara ketenangan

11.  Meringkas       

12.  Memberikan penghargaan

13.  Menawarkan diri

14.  Mengajukan untuk meneruskan pembicaraan

15.  Menempatkan kejadian secara berurutan

16.  Memberikan nasehat

17.  Memberikan kesempatan

18.  Refleksi

19.  Assertiv

E. Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi

1. Pemahaman topik yang di bicarakan

            a. Kecakapan

  • Memilih lambang atau simbol
  • Dapat membangkitkan minat komunikan
  • Pandai menarik minat komunikan
  • Memancing lawan bicara
  • Tidak berbelit-belit

b. Sikap

  • Sikap yang tidak dapat membantu mendukung berhasilnya kmunikasi
  • Sombong, angkuh, komunikan menolak
  • Cara duduk angkuh, tidak mau mendengarkan pendapat atau masukan dari orang lain
  • Sikap ragu, pendengar kurang percaya
  • Sikap yang dapat membantu mendukung berhasilnya komunikasi
  • Terbuka
  • Saling percaya
  • Muka manis
  • Rendah hati
  • Dapat menjadi pendengar yang baik
  • .pengetahuan komunikasi
  •  sistim sosial
  •  saluran atau alat tubuh pasien

2. usia

3. presepsi

4. nilai

5. seberapa besar mnfaat pesan

 

F. Tahapan Komunikasi

  1. Tahap pra intraksi
  2. Tahap orientasi atau perkenalan
  3. Tahap kerja
  4. Tahap terminasi

G. Prinsip Komunikasi Terapeutik

  • Mengenal dirinya sendiri
  • Ditandai dengan sikap menerima, percaya dan menghargai
  • Harus paham, menghayati nilai yang di anut pasien
  • Harus sadar pentingnya kebutuhan pasien
  • Harus menciptakan suasana agar pasien berkembang tanpa rasa takut
  • Menciptakan suasana agar pasien punya motivasi mengubah diri
  • Harus menguasai perasaan
  • Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan konsisten
  • Harus paham akan arti empati
  • Harus jujur dan berkomunikasi secara terbuka
  • Harus dapat berperan sebagai role model
  • Mampu mengekspresikan perasaan
  • Alturisme( panggilan jiwa),untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong
  • Berpegang kepada kode etik
  • Bertanggung jawab

H. Sikap Perawat Terhadap Komunikasi Terapeutik

  • Perawat hadir secara utuh (fisik dan psikologis) pada waktu komunikasi dengan klien perawat tidak cukup mengetahui teknik komunukasi dan isi komunikasi, tetapi yang sangat penting: sikap dan penampilan komunikasi.
  • Kehadiran fisik,
  1. Berhadapan
  2. Mempertahankan kontak mata
  3. Membungkuk ke arah klien
  4. Tetap rileks
  5. Mempertahankan sikap terbuka

Perilaku non verbal clunn(1991:163-167)

  1. Gerakan mata : gerakan ini dapan di pakai untuk memberikan perhatian
  2. Ekspresi muka : ini umumnya dapan dipakai sebagai bahasa non verbal
  3. Sentuh

 

Sikologis

  1. Dimensi respon
  • Respon perawat yang ikhlas, menghargai, empati, dan konkrit
  • Dimensi sebagai penting pada awal / bagian klien untuk membina hubungan saling percaya dan komunikasi yang terbuka
  1. Dimensi tindakan
  • Definisi tindakan total : Konfrontasi, keterbukaan, emotional,chatarsis dan bermain peran
  1. Konfrontasi (berkebalikan)
  • Ekspresi perasaan perawat tentang prilaku klien yang tidak biasa.
  1. Kesegaran
  • Berfokus pada interaksi dan hubungan perawat –klien saat ini
  1. Keterbukaan
  • Perawat harus terbuka dalam memberikan informasi tentang dirinya/ideal diri,perasaan,sikap dan nilai yang dianutnya.
  1. Emotional Chatersis
  2. Main peran
  1. Ciri-ciri
  1. Ikhlas (genuness)

Menjadi perawat harus positif thinkingwalaupun klien negative thinking, pendekatannya secara verbal atau nonverbal

  1. Empati (emphty)

Sikap yang jujur dalam menerima kondisi pasien

  1. Hangat (warmth)

Kehangatan dan sikap permisif yang di berikan diharapkan pasiendapat memberi dan mewujudka ide-idenya tanpa rasa takut.

  1. Kejujuran

Kejujuran penting karena tanpa adanya kejujuran mustahil terbina hubungan saling percaya. (rahmat, j. 1996 dan suryani 2005)

  1. Tak membingungkan dan cukup ekspresif

Harus menggunakan bahas ayang mudah dipahami tidak berbelit-belit

  1. Bersikap positif
  2. Mampu melihat permasalahan darri kacamata klien

Perawat harus mampu melihat permasalahan yang sedang di hadapi dari sudut pandang klien maka perawat harus mampu memahami dan memiliki kemampuan mendengar dengan baik dan penuh perhatian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                 

 

                                                                  BAB III

NASKAH ROLE PLAY

 

 

 

KEPERAWATAN DASAR

TAHAP PRE-INTERAKSI

 

Pada hari selasa 12 februari 2019 pasien bernama Riska erumur 21 tahun sebagai Mahasiswa tingkat akhir masuk rumah sakit Husada Utama di diagnosa medis gangguan cairan atau dehidrasi stadium sedang. Perawat telah membuat janji pada hari selasa 12 februari 2019 pukul 09:00 pagi.

 

Perawat IGD     :  pagi bu, benar anda ibu klien  ?

Ibu pasien         :  ya sus, kenapa?bagaimana keadaan anak saya, nanti dia masuk di ruangan mana?

Perawat IGD    :  keadaanya saat ini masih lemah bu, dia dehidrasi berat apa lagi dia diare, anak    ibu nanti akan masuk ruangan interna. Oh ia sejak kapan anak ibu keadaanya lemah  dan kira- kira sudah berapa kali dia buang air besar

Ibu pasien        :  baru kemarin sus dia seperti ini, saya kaget saat dia BAB terus, mungkin sekitar 7 kali dan hari  ini sekitar 4  kali, kadang dia juga muntah.

Perawat IGD    :  terakhir  sebelum masuk rumah sakit, makanan apa yang dia makan ?

Ibu pasien        :  setahu saya sejak dia pulang dari kampus dia sudah seperti ini.

Perawat IGD    :  terima kasih bu atas informasinya, silahkan tunggu ya bu, nanti kami antar keruangan  rawat inap.

Ibu pasien        :  iya sus.

 

•           .      Mengumpulkan data pasien

·         Kondisi Klien                          →        Diare

·         Diagnose Keperawatan           →        Gangguan rasa nyaman di bagian abdomen

·         Tujuan Khusus                        →        Mengurangi rasa nyeri

·         Data Subyektif                        →        klien merasa sakit di bagian abdomen, demam, lemas

·         Data Obyektif                                     →        Klien tampak lemas pucat, mulut dan bibir klien       terlihat kering, mata klien terlihat cekung.

 

·         TTV                                         →        38 C

·         TD                                           →        90/60 mmHg

N : 70x/menit

R : 40x/menit

S : 38,5˚C

·         Tindakan keperawatan            →        Pemeriksaan lab, pemeriksaan TTV, pemberian obat oral dan injeksi.

 

Perawat  IGD  mulai membicarakan kasus pasien baru dengan   CCM

 

CCM                 :  saya sudah berdiskusi dengan dokter dan kepala ruangan, dokter mendiagnosaklien diare dehidrasi,  oleh sebab itu,klien sudah tepat  di ruangan interna berdasarkan data klien dan diagnosa penyakitnya, sebaiknya segera hubungi, ruangan interna.

Perwat IGD          :  baiklah, saya akan hubungi  ruangan interna ( PP melapor ke ruangan interna tentang PBM dan diagnosanya untuk disediakan tempat).

CCM                   :  sediakan persiapan  klien,beritahu keluarga klien anaknya akan di bawah ke ruangan interna ( Instruksi kepada PA dan CI ).

Perawat IGD          :  baiklah (Perawat  mengantar klien dan keluarganya ke ruangan interna).

 

Perawat IGD kembali menemui Ibu pasien.

 

Perawat IGD           :  mari bu, ikut saya ke ruang  rawatinap,silahkan bawa barang2 ibu.

Ibu pasien               :  baik sus( klien  dan keluarganya segera  di antar ke ruangan interna sementara di ruangan interna menyiapkan ruangan untuk klien ).

 

 

 

FASE ORIENTASI

Perawat       : Assalamualaikum…

Pasien         : Waalaikumsalam…

Perawat         : hallo mbak, saya Dwi kartika puspita sari, mbak bisa memanngil saya suster dwi saya mahasiswi dari AKES RAJEKWESI BOJONEGORO, apakah benar ini dengan mbak Riska Damayanti?

Pasien         : iya sus benar

Perawat           : oh iya mbak, mbak lebih suka dengan panggilan apa ?

Pasien          : riska saja supaya lebih akrab

Perawat           : Baik mbak riska  hari ini saya akan merawat mbak dari pukul 07.00-14.00 siang nanti jadi kalua ada masalah atau keluhan mbak dapat menginformasikannya pada saya.

Pasien          : Oh iya baik sus

Perawat           : yasudah mbak, mbak istirahat dulu ya, saya permisi dulu

 

Pada siang harinya perawat kembali keruangan pasien

 

Perawat           : , bagaimana perasaan mbak hari ini ?

Pasien         : Alhamdulillah sus sekarang sudah membaik

Perawat           : Iya syukurlah mbak, kalau begitu apa yang mbak keluhkan hari ini ?

Pasien        : Iya sus yang saya keluhkan saat ini saya masih merasa lemas

Perawat           : Oh iya mbak, sesuai dengan perjanjian kita kemarin saya akan memberikan mbak pengetahuan    tentang diare, apakah mbak bersedia ?

Pasien          : Iya sus saya bersedia

Perawat           : Tempatnya mau dimana mbak ?

Pasien          : Disini saja sus

Perawat           : Iya baik mbak, posisinya mbak mau duduk apa tiduran saja ?

Pasien         : Duduk saja sus

Perawat           : (Posisikan) baik mbak, saya minta waktunya kurang lebih 10-15 menit untuk melakukan penyampaian materi tentang penyakit diare

Pasien          : Iya suster

FASE KERJA

Perawat          :  apa yang terjadi sehingga mbak masuk ke ruah sakit ?

Pasien          : Sebelum saya masuk ke rumah sakit badan saya lemas saya buang air besar terus menerus suster

Perawat          : Memang yang menyebabkan mbak buang air besar terus menerus apa mbak ?

Pasien          : Tidak tahu sus, tiba-tiba saja saya buang air besar terus menerus sus

Perawat          : Oh iya mbak, sebelum kita mulai apakah ada yang mbak ingin tanyakan ?

Pasien          : Tidak sus

Perawat           : Kalau begitu kita mulai saja yah mbak

(Pemberian Materi)

FASE TERMINASI

Perawat           : Nah mbak, setelah yang saya jelaskan tadi apakah mbak sudah mengerti ?

Pasien          : Iya sus saya sudah mengerti

Perawat           : Kalau mbak sudah mengerti, coba sebutkan gejala diare apa saja ?

Pasien          : (menyebutkan)

Perawat           : Iya bagus mbak, berarti mbak sudah memahaminya. Alhamdulillah mbak penjelasannya sudah selesai, bagaimana perasaan mbak  setelah mengetahui tentang gejala diare ?

Pasien          : Saya senang sus

Perawat           :mbak saya besok akan memberikan pengetahuan tentang pola makan yang sehat apakah mbak bersedia ?

Pasien          : Iya sus saya bersedia

Perawat           : Waktu dan tempatnya mau dimana mbak ?

Pasien          : Disini sus dan waktunya seperti tadi saja jam 09.00

Perawat           : Baik mbak, sekarang mbak bias beristirahat kembali

Pasien          : Iya sus, terimakasih banyak yah

Perawat           : Sama-sama mbak, semoga mbak lekas sembuh

Saya pamit yah mbak, Assalamualaikum…

Pasien          : Waalaikumsallam…,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Komunikasi merupakan suatu proses pembentukan, penyampaian, pennerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi didalam diri seorang dan atau diantara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang dilakukan atau diranang untuk terapi. Seorang perawat dapat membantu klien mengatasi masalah yang dihadapinya melalui terapi komunikasi. (Nunung Nurhasanah. 2010)

  1. Saran

Dengan terselesaikannya makalah ini diharapkan mahasiswa Program Studi DIII Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro dapat memahami cara komunikasi terapeutik pada orang dewasa dengan baik serta hubungannya dengan ilmu keperawatan yang tengah ditekuni. Hal tersebut ditujukan agar mahasiswa Program Studi DIII Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro dapat memiliki kompetensi yang tinggi dalamberkomunikasi dengan klien ataupun pasien. Serta mampu untuk menjalankan peranan keperawatan baik untuk sasaran perorangan ataupun komunitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

S.Kep, Ns.,Mukhirfah.2008.

Komunikasi Trapeutik dalam Keperawatan.PT Reflika Aditama. Bandung

Mahfudz.2009.

Peran Komunikasi Trapeuti.Ganbika. Yogyakarta

S.Kep, Nurhasanah.,2010.

Ilmu Komunikasi dalam Konteks Keperawatan.CV. Trans Info Media, Jakarta Timur